Sabtu, 17 Maret 2018

Indonesia Kelebihan Pasokan LNG Sampai 2024

Edi Saputra, Analis Senior Gas dan
Ketenagalistrikan Wood Mackenzie
Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Permintaan gas alam cair (LNG) di Indonesia turun dalam beberapa tahun terakhir yang disebabkan turunnya permintaan dari sektor ketenagalistrikan. Namun diperkirakan pada tahun 2018 ini permintaan LNG akan naik kembali. Bahkan diprediksi akan terjadi surplus LNG di Indonesia pada tahun 2018 sampai tahun 2024.

Diterangkan oleh Analis Senior Gas dan Ketenagalistrikan Wood Mackenzie Edi Saputra, kebutuhan pasar domestik akan LNG pada tahun 2016 sebesar 2,8 juta metrik ton/MT. Sementara tahun 2017 lebih rendah lagi yaitu hanya 2,4 juta MT. 

"Tahun 2018 ini prediksi kita akan recover ke kisaran 2,8 (juta MT) lagi, karena ada beberapa pembangkit-pembangkit listrik yang bisa mulai jalan terutama additional unit di komplek-komplek pembangkit PLN," kata Edi Saputra di Jakarta, Jumat (16/03).

Edi menambahkan, di tahun 2018 ini akan terjadi surplus LNG di Indonesia di mana produksi LNG diperkirakan sebesar 18,5 juta MT. Rinciannya, produksi dari Kilang Bontang 9 juta MT, Kilang Tangguh 7 juta MT, dan sebesar 2,5 juta MT dari Donggi Senoro.

Dari produksi 18,5 juta MT tersebut, akan diekspor sekitar 12,5 juta MT ke pembeli di Asia Timur seperti Jepang, Taiwan dan Tiongkok. Sisanya sekitar 6 juta MT diperkirakan Edi hanya bisa diserap oleh pasar domestik sebesar 2,8 juta MT. "Masih ada surplus sekitar 3 sampai 4 juta MT," jelasnya.

Ditegaskan Edi, jumlah 4 juta MT tersebut masih terlalu besar untuk pasar spot LNG. Dengan kondisi kelebihan produksi tersebut, dirinya tidak merekomendasikan upaya pengurangan produksi LNG di dalam negeri karena akan berakibat buruk pada operasi migas di Indonesia serta berpotensi menimbulkan hilangnya penerimaan negara. 

Untuk itu pemerintah harus bisa lebih fleksibel dengan membuka keran ekspor gas. "Surplus itu tidak hanya disebabkan oleh kebutuhan domestik yang menurun tapi juga karena keputusan pemerintah yang membatasi ekspor. Tahun lalu itu ada kontrak ekspor ke Korea dan Jepang yang berhenti namun pemerintah menolak memperpanjang," ungkapnya.

Apalagi mulai tahun 2019 jumlah LNG di Indonesia kian bertambah karena Pertamina sudah menandatangani beberapa kontrak impor LNG dengan Cheniere, Total dan Woodside. Edi memperkirakan surplus pasokan LNG di Indonesia masih akan berlangsung hingga tahun 2024. "Seharusnya antara sekarang sampai tahun 2024 itu tidak diperlukan impor menurut perhitungan dan estimasi kita," ucapnya.

Edi menekankan harus ada perubahan mindset dari pemerintah untuk berani mengambil langkah ekspor LNG untuk menjaga keseimbangan di pasar LNG di dalam negeri. "Langkah kedua bisa dilakukan dengan mendukung konsumsi gas di Indonesia," tutupnya. RH