Senin, 26 Maret 2018

Supreme Energy Dapatkan Pinjaman USD 540 Juta untuk Proyek Rantau Dedap

Jakarta, OG Indonesia -- PT Supreme Energy Rantau Dedap (SERD) telah berhasil merampungkan perjanjian untuk pembiayaan proyek panasbumi Rantau Dedap. Pinjaman senilai USD 540 juta telah ditandatangani di Jakarta, Jum'at (23/03).

Penandatangan perjanjian pembiayaan untuk proyek tersebut dilakukan oleh SERD dengan Japan Bank for International Cooperation (JBIC), Asian Development Bank (ADB) dan kelompok bank komersial internasional (yang terdiri dari Mizuho Bank Ltd., Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation), dengan perusahaan Nippon Export and Investment Insurance sebagai penjamin.

SERD adalah perusahaan patungan yang terdiri dari PT Supreme Energy, ENGIE dari Perancis, Marubeni Corp dan Tohoku Electric Power Co., Inc. dari Jepang.

Presiden & CEO Supreme Energy, Supramu Santosa mengatakan bahwa pinjaman tersebut untuk membiayai pengembangan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) Rantau Dedap berkapasitas 98,4 MW (bruto). Proyek ini lokasinya masuk di Daerah Muara Enim, Lahat dan Kota Pagar Alam, Provinsi Sumatera Selatan.

Untuk mengembangkan proyek ini, SERD juga telah menunjuk Kontraktor EPC, konsorsium PT Rekayasa Industri dan Fuji Electric Co., Ltd. Proyek ini diharapkan akan selesai pada tahun 2020 mendatang. 

"Proyek ini rencananya akan rampung pada tahun 2020, dengan kapasitas produksi listrik bebas karbon sebesar 98,4 MW (bruto), dan akan mengurangi emisi CO2 sebayak 486.000 ton per tahun," ujar Supramu.

Lebih lanjut, dia juga menjelaskan bahwa pengembangan panasbumi Rantau Dedap merupakan proyek PLTP kedua yang dibangun oleh Supreme Energy. Sebelumnya, perusahaan energi nasional ini juga tengah membangun proyek serupa di Muara Laboh, Solok Selatan, Sumatera Barat, yang pembiayaannya didapat pada tahun 2017.

"Ini merupakan upaya gigih panjang dan komitmen yang kuat dari Supreme Energy dalam pengembangan sumber daya panasbumi di Indonesia, yang merupakan bagian penting dari rencana Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional untuk mencapai ketahanan energi yang berkelanjutan," papar Supramu.