Selasa, 24 April 2018

Waspada Hoax Bikin Retak Persatuan dan Kesatuan Bangsa

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Pemberitaan palsu (hoax) adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Hoax kini semakin marak beredar di tengah masyarakat. Bentuknya pun dapat bermacam-macam, seperti kalimat berisi berita yang telah diputarbalikkan dari fakta ataupun berupa gambar-gambar yang telah didesain ulang dari gambar aslinya. Hoax yang beredar di tengah masyarakat tersebut dapat mengancam persatuan dan kesatuan Republik Indonesia, apalagi hoax yang bersifat agama.

"Hoax ini dampaknya luar biasa, pengalaman di dunia itu bisa menimbulkan perpecahan dan peperangan," tegas Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto saat membuka Forum Promoter 2018 Polri, bertema “Polri Serius  Tangani Hoax Penyebab Retaknya Persatuan dan Kesatuan Indonesia”, Selasa, (24/04), di Hotel 88, Jakarta Selatan,

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Direktur Layanan informasi Internasional, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (Ditjen IKP), Kementerian Komunikasi dan Informatika, Selamatta Sembiring, yang mengutip dari wearesocial.org, bahwa penggunaan digital di Indonesia dengan populasi penduduk sekitar 265,4 juta menunjukkan pengguna internet sekitar 132,7 juta. Kemudian untuk pengguna aktif media sosial di Indonesia sekitar 130 juta, pengguna handphone sekitar 177,9 juta, dan pengguna aktif media sosial di handphone sekitar 120 juta. 

“Fakta dan data kebiasaan orang Indonesia, 4 dari 10 aktif di media sosial, 60% tak punya rekening tabungan tapi 85% punya ponsel. Orang Indonesia bisa hidup tanpa ponsel paling lama 7 menit. Orang Indonesia mengakses internet rata-rata 8-11 jam sehari. Kemudian minat baca berada di peringkat ke-60 dari 61 negara. Aktivitas baca buku rata-rata 27 halaman per tahun, dan baca koran rata-rata 12-15 menit per hari,” kata Selamatta.

Lalu, bagaimana dengan interaksi di media sosial? Selamatta menegaskan, “Isi Media Sosial menurut data Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan: 90,30% berita bohong, 21,60% Informasi bersifat menghasut, dan 59% informasi tidak akurat. Kemudian, konten negatif ini berdampak pada persepsi masyarakat.”

Berkaitan dengan persoalan hoax, menurut Selamatta perkara hoax pada lini massa Twitter untuk di Indonesia memiliki tingkat tertinggi dalam penyebaran isu berita hoax, yakni 104.375 cuitan. Sementara untuk di negara lain seperti AS sebanyak 68.494 cuitan padahal AS sebagai negara pengguna twitter terbanyak di dunia, tapi penyebaran berita hoax tidak sebanyak di Indonesia. 

Sementara itu pembicara lain di acara yang sama, AKP (Pol) Bayu Hernanto, Kasubnit V Subdit III Direktorat Siber Polri, menyebutkan hoax sudah ada sejak Perang Dunia Ke-2. Lebih lanjut Bayu mengungkapkan, pada saat ini sedang marak kejadian hoax yang terkait pada situasi ketahanan pangan di Indonesia. Dia menyontohkan kasus hoax telur palsu yang beredar di media massa. “Beredar viralnya isu hoax telur palsu, ternyata membawa dampak besar. Kepala Satgas Pangan Irjen Pol Setyo Wasisto mengatakan omzet telur di pasaran, baik dari sisi peternak maupun pedagang menurun hingga 40 persen,” kata Bayu mengutip salah satu media. 

Bayu menyebutkan sebenarnya ada Undang-Undang yang bisa menjerat soal hoax, yakni Perundang-undangan No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Aturan itu ada di dalam Pasal 27 tentang muatan yang melanggar kesusilaan, memuat perjudian, penghinaan dan/atau pencemaran nama baik, dan muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Lalu di Pasal 28 tentang berita bohong yang menyebabkan kerugian konsumen dan menimbulkan rasa kebencian terkait SARA. Sementara di Pasal 30 soal mengakses komputer milik orang lain untuk memperoleh informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik, serta tentang mengakses komputer dengan cara menjebol sistem pengamanan. Sedangkan di Pasal 31 tentang melakukan intersepsi dalam suatu komputer milik orang lain.

Ciri-ciri Hoax

Ada beberapa ciri hoax yang bisa dikenali menurut Selamatta, yakni:
- Menciptakan kecemasan, kebencian, permusuhan, dll (fear arousing).
- Sumber tidak jelas dan tidak ada yang bisa dimintai tanggung jawab atau klarifikasi (whispered propaganda)
- Pesan sepihak, menyerang, dan tidak netral atau berat sebelah (one-sided).
- Mencatut nama tokoh berpengaruh atau pakai nama mirip media terkenal (transfer device)
- Memanfaatkan fanatisme atas nama ideologi, agama, suara rakyat (plain folks)
- Judul dan pengantarnya profokatif dan tidak cocok dengan isinya.
- Memberi penjulukan (name calling)
- Minta supaya dishare atau diviralkan (band wagon)
- Menggunakan argumen dan data yang sangat teknis supaya nampak ilmiah dan dipercaya (card stacking
- Artikel yang ditulis biasanya menyembunyikan fakta dan data serta memelintir pernyataan narasumbernya.
- Berita ini biasanya ditulis oleh media abal-abal. Media yang tidak jelas alamat dan susunan redaksi.
- Manipulasi foto dan keterangannya. Foto-foto yang digunakan biasanya sudah lama dan berasal dari kejadian di tempat lain dan keterangannya juga dimanipulasi. Pelaku juga dapat mengubah latar dan foto sebuah peristiwa dengan mengandalkan kecanggihan piranti pengolah gambar dan keterampilannya.

Selamatta juga memberikan gambaran mengenai Bentuk Hoax (Pesan yang Menipu) antara lain:
- Bisa berupa berita dusta dari sebuah situs.
- Berupa pesan berantai yang menyesatkan.
- Foto hasil rekayasa atau editan.
- Foto lama diberi keterangan seakan baru, untuk benarkan isu aktual.
- Foto dari luar negeri tapi seakan di Indonesia.
- Meme yang menyesatkan.
- Link berita benar dari media berkredibilitas, tapi diberi pengantar yang menipu, menyesatkan, berbeda dengan isinya kalau di klik.

Bisnis di Balik Hoax

Perlu diketahui  bahwa penyebaran berita hoax bisa meraup keuntungan. Selamatta menyebutkan Setiap kali berita bombastis (clickbait) diklik, maka pemilik situs bisa mendapat keuntungan dari iklan. Menurut hasil penelusuran dari Bareskrim, Sindikat SARACEN memiliki 800.000 akun lebih. Jika 1000 x klik = 1 USD atau sekitar 14.000 rupiah.