Jumat, 20 Juli 2018

Aksi Bela Pertamina, Ribuan Pekerja Sambangi KBUMN dan KESDM

Aksi Bela Pertamina di depan
Kementerian BUMN.
Foto-foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Ribuan pekerja Pertamina pada hari Jumat (20/07) pagi menggelar aksi turun ke jalan dan melakukan long march bersama-sama dari kantor Pusat Pertamina menuju Kementerian BUMN dan Kementerian ESDM.


Dalam aksi yang diberi nama Aksi Bela Pertamina tersebut, para pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) menuntut penuntasan masalah-masalah penting yang tengah mendera Pertamina belakangan ini seperti persoalan penjualan aset Pertamina sampai masalah akuisisi Pertagas oleh PGN di bawah bendera holding migas.

Presiden FSPPB Arie Gumilar menegaskan penjualan aset Pertamina yang diajukan oleh Direksi yang berupa share down aset hulu dan spin off bisnis Refinery tidak akan menyelesaikan akar masalah dari problem keuangan Pertamina. Ia menjelaskan masalah keuangan Pertamina justru terjadi akibat kerugian pada bisnis utama Pertamina yaitu penjualan BBM jenis Solar, Premium dan Pertalite, sehingga mengakibatkan kas operasional negatif.

“Penyelesaian dengan cara menjual aset hanya akan memperbaiki kas operasional Perusahaan yang bersifat sementara dan justru akan jauh lebih merugikan Pertamina ke depan bila aset yang dijual adalah aset yang menguntungkan dan strategis,” jelas Arie kepada wartawan.

Sementara terkait penjualan saham Pertagas sebesar 51% melalui skema akuisisi oleh PGN, Arie mengatakan proses tersebut salah dan menodai tujuan holding migas yang bertujuan meningkatkan efisiensi dari dua perusahaan tersebut dalam hal optimalisasi infrastruktur dan kapasitas investasi.

“PGN dimiliki oleh 43% Publik, dan Pertagas dimiliki 100% persen oleh Pertamina sehingga skema akuisisi menyebabkan pendapatan Pertagas yang semula menjadi milik Negara c.q Pertamina beralih ke publik,” tuturnya.

Ditambahkan Arie, FSPPB juga menyoroti rencana atau usulan aksi korporasi tersebut yang dilakukan ketika jabatan strategis Direktur Utama PT Pertamina (Persero) dan President Director PT Pertamina Gas dalam kondisi kosong serta dibubarkannya Direktorat Gas.

“Sebagai sebuah perusahaan yang memegang tugas serta tanggung jawab sebagai tulang punggung energi di Indonesia, sudah seharusnya Pertamina memiliki nahokda yang definitif, prudent dan kompeten dalam menjalankan bisnis di Pertamina," ucap Arie menyoroti posisi Dirut Pertamina yang masih kosong hingga kini. 

Saat melakukan aksi di depan Kementerian BUMN, perwakilan pekerja Pertamina menemui Menteri BUMN Rini Soemarno di lantai 19 Gedung Kementerian BUMN. Setelah mendengar aspirasi yang disampaikan oleh FSPPB, Rini akhirnya bersedia turun dan datang menemui para pekerja Pertamina yang berkerumun di depan Gedung Kementerian BUMN. 

Menteri BUMN Rini Soemarno menemui
para pekerja Pertamina yang berunjuk rasa
di depan Gedung Kementerian BUMN.
Rini Soemarno kemudian sempat naik mobil bak terbuka tempat pekerja berorasi untuk berbicara selama beberapa menit. Ia menyampaikan posisinya yang berupaya untuk menjaga keberlangsungan usaha Pertamina. "Tanggung jawab saya adalah bagaimana Pertamina sampai 100 tahun ke depan masih ada untuk anak cucu anda. Pemerintah akan selalu menjaga keberlangsungan Pertamina," kata Rini.

Dari Kementerian BUMN aksi long march kemudian berlanjut ke Kementerian ESDM untuk menemui Menteri ESDM Ignasius Jonan. Namun pewakilan pekerja sempat kecewa karena hanya bisa bertemu dengan Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dan Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Ego Syahrial.

FSPPB dikatakan Arie akan terus mengawal aspirasi para pekerja Pertamina yang telah disampaikan ke Menteri BUMN dan Menteri ESDM. "Kami akan terus kawal meski tak ada target waktu. Kami terus kawal apa yang kami tuntut, kalau ternyata dalam perjalanannya tuntutan kami mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan apa yang kami ajukan maka tentunya kami akan bereaksi," pungkas Arie. RH