Kamis, 12 Juli 2018

Bayar Komponen Pembangkit Listrik Pakai Rupiah akan Tekan Biaya

Foto: Hrp
Depok, OG Indonesia -- Melemahnya nilai mata uang rupiah belakangan ini menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis dan industri ketenagalistrikan sekarang ini. Sebabnya, komponen pembangkit listrik masih memakai mata uang dollar AS.

"Ini perlu kita waspadai karena struktur di sektor kelistrikan kita sekarang sangat tergantung pada kurs dollar," kata Jarman, Mantan Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, saat menjadi pembicara kunci di FGD bertema "Tantangan Aktual Bisnis dan Industri Ketenagalistrikan" di Kampus UI, Depok, Kamis (12/07).

Ia mengungkapkan, dengan dominasi mata uang dollar di sektor ketenagalistrikan, berimbas kepada keuangan PLN seiring menguatnya nilai tukar dollar dan melemahnya rupiah.

"PLN semester satu kemarin rugi Rp 6 triliun karena kurs dollar. Padahal naiknya dollar enggak besar-besar amat. Ini suatu hal yang ironis," jelas Ketua Dewan Pembina Ketenagalistrikan Universitas Indonesia ini.

Karena itu, menurut Jarman, untuk menghindari beban pengadaan listrik yang berujung pada kenaikan harga jual listrik ke konsumen, maka perlu dimasukkan penggunaan mata uang rupiah dalam komponen pembangkit. 

"Kurs dollar ini perlu diwaspadai, karena tidak lama lagi 50 persen pembangkit listrik berbentuk IPP, di mana IPP itu ada komponen A dan komponen-komponen lain," ucapnya. Komponen A merupakan fixed cost, yakni biaya yang harus tetap dikeluarkan terlepas dari pembangkit listrik tersebut dioperasikan atau tidak, seperti biaya pekerjaan sipil, biaya pembelian turbin, generator, dan lain-lain.

Diterangkan Jarman, di negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina, untuk komponen A tersebut sudah menggunakan mata uang lokal, bukan lagi dollar. "Ini yang harus kita perbaiki. Kalau tidak, kurs naik, listrik naik," tutupnya. RH