Selasa, 24 Juli 2018

Cost Recovery Terus Dipangkas Demi Selamatkan Uang Negara


Hasil gambar untuk cost recovery migasJakarta, OG Indonesia-- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan investasi minyak dan gas bumi (migas) yang masih rendah pada semester I-2018 bukan tanpa alasan. 


Banyak proyek migas yang memang nilai investasinya dipangkas dengan alasan akan menghemat cost recovery. Realisasi investasi migas baru mencapai US$ 3,9 miliar atau sekitar 27% dari target sebesar US$ 14,2 miliar.




Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengungkapkan, nilai investasi migas yang selama ini dipangkas demi menyelamatkan uang negara. Sebab, sebagian besar proyek migas itu masih menggunakan skema bagi hasil cost recovery. "Itu kami potong, uangnya kembali ke negara," ungkapnya, Selasa (24/7).

Misalnya, investasi Blok Jambaran-Tiung Biru yang dipangkas dari US$ 2,1 miliar menjadi US$ 1,5 miliar. "Itu turun tidak nilai investasinya? Ya turun. Akan tetapi berapa dana yang dihemat untuk cost recovery? Hampir US$ 600 juta. Lalu produksi turun tidak? Diupayakan tidak nantinya," imbuh Arcandra.

Kala itu pemegang participating interest (PI) ExxonMobil tak terima investasi dipangkas. ExxonMobil pun menjual PI sebesar 41,4% di Jambaran-Tiung Biru ke Pertamina EP. "Sekarang Pertamina EP Cepu yang mayoritas punya saham," ungkapnya kembali.

Selain itu, ada proyek IDD Chevron yang masih terus dinegosiasikan antara Chevron dan pemerintah. Pada 2014, investasi Chevron di IDD mencapai US$ 18 miliar, namun setelah kajian dan rasionalisasi investasi, maka nilainya bisa turun menjadi US$ 11,7 miliar. "Ada penghematan lagi US$ 7 miliar," lanjutnya.

Proyek IDD Chevron memakai skema cost recovery. Sehingga jika investasi tinggi, maka otomatis cost recovery yang dibayar oleh negara ikut menanjak. "Kami selamatkan uang negara untuk ini, soal produksi ya kami jaga agar tidak turun akibat penghematan tersebut," ujar Arcandra.

Berbeda dengan skema gross split saat ini, soal biaya investasi tidak lagi menjadi tanggungan negara. Sebab para kontraktor migas harus menentukan biayanya di awal. "Gross split mereka yang tentukan, negara tidak keluar uang lagi," imbuh dia.

Dengan gross split, kata Arcandra, negara tidak lagi harus membayar biaya penggantian proyek migas. Sehingga hasil yang diperoleh negara untuk minyak bumi sebesar 57% dan kontraktor mendapatkan 43%. Adapun di proyek gas bumi, negara meraih 52% dan kontraktor sebesar 48%.