Jumat, 27 Juli 2018

Ke Papua, Mahasiswa dan PLN Survei Listrik di Desa-desa

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Ekspedisi Papua Terang merupakan upaya PLN bersinergi dengan stakeholders untuk mewujudkan percepatan pemerataan pembangunan di Indonesia Timur, khususnya elektrifikasi di desa-desa. Dalam hal ini, PLN bersama 165 mahasiswa pencinta alam (MAPALA) dari 5 (lima) Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Cenderawasih (Uncen) akan melakukan survei geografi, demografi, potensi energi baru terbarukan maupun sistem jaringan evakuasi daya di sekitar 415 desa di 24 kabupaten di Papua dan 1 kabupaten di Papua Barat.

Para Mapala ini akan berangkat ke Papua bersama 130 pegawai PLN yang menjadi relawan. Tugas para relawan nanti adalah membantu pelaksanaan survei listrik yang dilakukan oleh para mahasiswa.

Sebelumnya para peserta akan diberikan pembekalan mulai dari pembangunan jiwa korsa dari TNI AD, pengenalan masyarakat papua dan topografi wilayah dari Papua Center UI, pemanfaatan data pengindraan jauh dari LAPAN, serta workshop fotografi dan jurnalistik dari pakar media massa. Pembekalan ini rencananya akan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penandatanganan kerjasama PLN dengan Perguruan Tinggi, TNI AD dan LAPAN pada 27 Juli 2018 di PLN Kantor Pusat, Jakarta.

Sedangkan keberangkatan para peserta Ekspedisi Papua Terang akan dilaksanakan pada 28 Juli 2018 dimana pelepasannya dilakukan di PLN Kantor Pusat, Jakarta. Sedangkan seremonial pelepasan mahasiswa yang menjadi peserta Ekspedisi Papua Terang telah dilaksanakan oleh pihak rektorat dari masing-masing universitas pada 25-26 Juli 2018 lalu. 

Wakil Rektor Bidang Pendidikan, Pengajaran dan Kemahasiswaan UGM Djagal Wiseso Marseno, berpesan kepada mahasiswa yang menjadi peserta agar mereka harus segera dapat beradaptasi dengan lingkungan dan budaya di Papua. Ia juga menekankan bahwa program ini berbeda dengan kegiatan pecinta alam pada umumnya.

“Ini bukan ekspedisi seperti halnya yang saudara lakukan sebagai pecinta alam, apakah itu susur sungai, naik gunung, atau masuk gua. Tidak. Melainkan sebuah kegiatan yang ada targetnya, bagaimana kita bisa menghasilkan sesuatu dari kegiatan ini bagi masyarakat Papua,” imbuhnya.

Djagal juga menambahkan bahwa untuk mempertahankan Papua, pemerintah harus membangun secara cepat sehingga masyarakat Papua tidak merasa dianaktirikan. “Sekarang Pemerintah sedang membangun infrastuktur yang baik di sana mulai dari jalan, pelabuhan dan bandara, kemudian dari sisi kelistrikan oleh PLN melalui program Papua Terang. Ini merupakan suatu langkah yang sangat positif,” jelasnya.

Saat ini rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih sekitar 53,62 persen, untuk itu PLN berusaha meningkatkan rasio elektrifikasi melalui program listrik desa Papua Terang. Pada program yang bersifat pengabdian masyarakat ini, selain bekerja sama dengan lima perguruan tinggi negeri tersebut, PLN juga bekerja sama dengan TNI dan LAPAN untuk mendukung pelaksanaan survei.

Direktur Bisnis Regional Maluku-Papua PLN Ahmad Rofik mengapresiasi para mahasiswa dan pegawai PLN yang berpartisipasi dalam survei kelistrikan di Tanah Papua.

"Kami sangat mengapresiasi para mahasiswa dan relawan dari pegawai PLN yang bertekad mengikuti program ini. Kondisi geografis pulau Papua yang luas menjadi tantangan bagi PLN untuk membangun infrastruktur kelistrikan yang menjangkau seluruh masyarakat. Lewat program survei ini dan partisipasi dari perguruan tinggi, TNI dan LAPAN, kami mengharapkan akan banyak daerah di Indonesia yang mendapatkan listrik, khususnya daerah-daerah 3T dan Tanah Papua," terang Rofik.

Berkontribusi membangun negeri merupakan keinginan Stella Indrawaraski, mahasiswi Teknik Geomatrika ITS. Hal inilah yang mendasari ia dan rekan-rekannya ikut pada kegiatan Ekspedisi Papua Terang yang dilaksanakan oleh PLN.

“Saya ingin turut bersinergi membangun Indonesia, terutama di daerah-daerah Timur Indonesia, yang masih minim sarana dan prasarana, saya ingin berkontribusi dan mengabdikan ilmu-ilmu yang saya dapat di perkuliahan untuk membantu saudara-saudara di Papua,” kata Stella.

Sementara itu, salah satu mahasiswa UGM, Ajun Evi Nugraha menyampaikan rasa optimisnya atas kontribusi yang akan ia lakukan dapat berdampak besar bagi pembangunan di Papua.

"Saya ingin mengetahui daerah-daerah di Papua itu sendiri dan dapat memahami lapangan di Papua. Harapannya selain desa-desa terisolir mendapatkan akses listrik dengan mudah, tentunya kesejahteraan masyarakat disana juga dapat meningkat," ungkapnya.

Baik Stella maupun Ajun telah melakukan persiapan jelang keberangkatan ke Papua pada 28 Juli mendatang. Mulai dari persiapan fisik, mental, hingga wawasan sosial budaya Papua. 

“Cari tahu Papua dari internet, maupun bertanya-tanya mengenai Papua baik dari segi lingkungan dan sosialnya kepada orang-orang yang pernah melakukan pengabdian maupun yang pernah tinggal disana,” tambah Stella. RH