Jumat, 03 Agustus 2018

Pertamina Kelola Blok Rokan, Devisa Negara Bisa Dihemat

Foto: Hrp
Jakarta, OG Indonesia -- Pemerintah bisa menghemat devisa negara hingga 70 miliar dolar AS ketika Blok Rokan dikelola PT Pertamina (Persero). Hal tersebut dikatakan oleh Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro.

"Produksi crude (minyak mentah) Blok Rokan bisa langsung masuk ke kilang Pertamina sehingga tidak perlu keluar devisa lagi untuk impor crude," kata Komaidi, Jumat (03/08) di Jakarta.

Berdasarkan data SKK Migas, Blok Rokan saat ini memproduksi minyak mentah sebesar 207.000 barel per hari. Dengan asumsi harga minyak mentah 50 dolar AS per barel, penghematan devisa yang diperoleh selama 20 tahun kontrak bisa mencapai lebih dari 70 miliar dolar AS.

Dijelaskan olehnya, pengelolaan Sumber Daya Alam di tanah air telah diatur dalam konstitusi lewat pasal 33 ayat 2 UUD 45 yang menyebutkan Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. 

"Ruh pasal 33 UUD 45 ini diterjemahkan dalam  Nawacita Jokowi, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomis domestik," jelasnya.  

Karena itu, diterangkan Komaidi, pengurangan impor energi minyak dengan meningkatkan eksplorasi dan eksploitasi migas di dalam dan di luar negeri menunjukkan bahwa Nawacita Presiden Jokowi di sektor migas sudah tepat. "Nawacita Presiden Jokowi di sektor migas sudah on the right track, dalam 2 tahun terakhir sudah melimpahkan delapan blok migas yang berakhir 2018-2020," papar Komaidi. 

Sebelumnya, Presiden Jokowi melalui Menteri ESDM Sudirman Said juga sudah memuluskan langkah Pertamina untuk mengelola Blok Mahakam. Dengan menguasai blok migas potensial, lanjut Komaidi, Pertamina diharapkan mampu menjaga produksi migas dan menambah pendapatan negara melalui bagi hasil, pajak dan dividen. 

Untuk memenuhi tuntutan UUD 45 dan mewujudkan Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK di bidang energi, Pertamina sendiri telah melakukan melakukan berbagai program pengelolaan migas termasuk untuk pengelolaan Blok Rokan. 

Pengelolaan Blok Rokan, kata Komaidi, akan memperkuat posisi Pertamina sebagai BUMN migas, mengoptimalkan alih teknologi dan dapat melakukan sinergi dengan blok migas lain di sekitar Blok Rokan. Menurutnya, dengan mengelola Blok Rokan, selain negara dapat keuntungan dari bagi hasil, pajak dan dividen, terbuka pula peluang besar untuk meraih ketahanan dan kedaulatan energi nasonal.

Sementara itu, anggota Komisi VII DPR RI, Achmad Farial, juga menyatakan pendapat yang senada, bahwa sudah seharusnya Blok Rokan dikelola oleh perusahaan nasional yaitu Pertamina.

Politikus PPP ini menyebut mengelola Blok Rokan ini memang tidak mudah, tapi ia yakin Pertamina bisa melakukannya. Selama ini Blok Rokan, menurut Farial, dikelola dengan teknologi tinggi. Perusahaan tidak hanya dituntut menyedot minyak ke atas, tapi juga harus menyedot minyak yang menempel pada dinding sumur.

Farial mengusulkan agar selama tiga tahun sebelum pengambilalihan, Pertamina mengambil manajemen dan teknologi dari Chevron. "Saat mengambil alih blok ini, Pertamina ditantang untuk mampu membuat produksi stabil. Jangan sampai nanti produksi tiba-tiba drop, sehingga bisa membuat malu," ucapnya.

Farial mengusulkan, untuk mengelola blok ini, Pertamina harus bisa menyiapkan anak perusahaan khusus. Blok Rokan, kata dia, tidak bisa langsung jadi tanggung jawab holding perusahaan, karena perlu ada perhatian khusus. Jika tantangan mengelola Blok Rokan ini bisa diatasi, Farial yakin Pertamina akan semakin mengukuhkan dirinya sebagai perusahaan energi kelas dunia.