Rabu, 19 September 2018

DME Sebagai Energi Masa Depan

Foto: aboutdme.org
Jakarta, OG Indonesia -- Dimethyl Ether (DME) merupakan suatu jenis bahan bakar (fuel) yang awalnya kerap dipakai sebagai aerosol propellant pada produk hairspray, parfum, deodoran, sampai insektisida. Kini, DME punya prospek cerah sebagai bahan bakar di masa depan, karena selain dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar diesel (Solar), DME juga dapat digunakan untuk menggantikan bahan bakar LPG.

Ditegaskan oleh Shaukat Ally, Pemilik PT Green Globe Energies (PT GGE) yang serius mengembangkan DME, bahwa DME adalah energi masa depan karena termasuk energi bersih yang rendah emisi serta berkelanjutan dari sisi ketersediaan bahan baku. 

“Berkelanjutan terutama dengan menggunakan bahan baku lokal yang berlimpah di Indonesia yang harganya lebih murah daripada LPG atau diesel,” kata Shaukat di sela-sela acara “2nd Indonesia Energy Efficiency and Conservation Conference & Exhibition (IICCE) 2018” di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (18/09). Bahan baku DME memang banyak terdapat di Indonesia yaitu batu bara, biomassa dan gas alam.

Ditambahkan Shaukat, pemanfaatan DME juga dapat mengurangi beban negara dari biaya impor LPG dan solar. Saat ini Indonesia mengimpor sekitar 5,7 juta ton LPG, 6 juta ton solar serta 500K ton pentane setiap tahunnya. “Dengan memanfaatkan DME dapat menghemat devisa kurang lebih 10 miliar dollar AS atau setara 150 triliun rupiah setiap tahunnya,” terangnya.

Pendapat serupa dikatakan oleh S. Herry Putranto, Chairman Komunitas Migas Indonesia (KMI) di tempat yang sama. Menurut Herry, DME yang bisa menggantikan LPG akan dapat menolong keuangan negara yang disebabkan ketergantungan pada impor LPG yang dari tahun ke tahun kian membengkak. 

“Saya sangat mendukung upaya pembangunan plant DME di Indonesia,” ujar Herry. Ia bahkan memiliki usulan, untuk pengembangan DME tahap awal bisa didorong dengan skema mandatori DME 20% yang dicampur ke LPG, seperti halnya mandatori biodiesel sebesar 20% (B20) yang dicampur pada bahan bakar Solar.

Dilanjutkan oleh Shaukat Ally, saat ini perusahaannya memakai teknologi pembuatan DME dari KOGAS (Korean Gas Company). PT GGE sebagai agen eksklusif dari teknologi KOGAS telah mengantongi MoU dengan Balitbang Lemigas untuk mengadakan riset bersama dan menghibahkan peralatan (pilot equipment) untuk menghasilkan DME berbahan baku dari methanol hasil bantuan dari pemerintah Korea Selatan melalui konsorsium DAEHAN E&C dan PT GGE.

Shaukat mengungkapkan, dalam waktu dekat ini perusahaannya akan membangun plant DME dengan bahan baku methanol di kawasan Tangerang dengan kapasitas produksi sebesar 50.000 ton DME per tahun. “Ini untuk memasok kebutuhan industri aerosol yang selama ini impor,” jelasnya seraya menambahkan perusahaannya juga akan menjalin kerjasama dengan Pertamina dan PT Bukit Asam untuk mengolah batu bara kalori rendah menjadi DME dengan kapasitas produksi hingga 1,5 juta ton per tahun. RH