Sabtu, 01 September 2018

Hati-hati Pakai Zat Penambah Oktan Kendaraan, Bisa Berbahaya

Jakarta, OG Indonesia -- Kemunculan Eco Racing sebagai produk penghemat BBM kendaraan yang ramah lingkungan semakin ramai diperbincangkan. Pro dan kontra mengemuka semenjak awal kemunculan produk yang diperdagangkan oleh PT. Bandung Eco Sinergi Teknologi di tahun 2016 tersebut.

Eco Racing merupakan sebuah produk berbentuk tablet di mana memiliki zat yang dinyatakan berfungsi untuk melindungi mesin kendaraan, meningkatkan oktan bahan bakar minyak, menghemat penggunaan bahan bakar (BBM) dan satu-satunya oktan besar  atau vitamin BBM  di dunia yang bisa menghilangkan gas CO  hingga 100 persen.

Febrian Agung Owner PT Bandung Eco Sinergi Teknologi mengungkapkan bahwa Eco Racing telah terbukti kehandalannya lewat testimoni para user dan telah lulus uji emisi di mana uji emisi dilakukan secara resmi oleh dinas perhubungan di kota-kota besar seluruh Indonesia seperti Makassar, Banjarmasin, Jambi, Padang, Bandung, Yogyakarta, Semarang dan sebagainya.

“Melalui uji coba laboratorium dari Lemigas dan PetroLab, sebelum menggunakan Eco Diesel  sulfur yang dihasilkan dari gas buang mesin genset ini lebih dari 200 poin, setelah tes lewat laboratorium menggunakan Eco diesel bisa menurunkan kadar sulfur hingga 99 persen, padahal sulfur ini bahaya sekali untuk mesin-mesin diesel yang berbahan bakar solar, karena bisa menimbulkan hujan asap,” terang Febri.

“Produk ini sudah dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan sudah ekspor ke berbagai negara, sejak tahun 2016. Kinerjanya menunjukkan hasil yang sangat luar biasa dimana Eco Racing dapat menghilangkan polusi udara hingga 100 persen,” ujar Febri. "Bayangkan kendaraan tanpa polusi dengan Eco Racing,  kalau seluruh mobil, motor di Indonesia menggunakan Eco Racing semua maka Indonesia dapat bebas polusi kedepannya,” tambahnya.

Eco Racing sendiri dapat digunakan di hampir semua mesin yang menggunakan bensin maupun diesel, bisa digunakan untuk motor, mobil bensin ataupun mobil solar, mobil pribadi dan mobil sport, juga dapat digunakan keperluan-keperluan industri maupun pertanian.

Zulfadli Assegaf, salah satu pemakai produk yang kami wawancara langsung mengakui bahwa memang dengan menggunakan Eco Racing ia bisa lebih hemat biaya operasional. Salah satu user Eco Racing dari Kalimantan tersebut menggunakannya tidak hanya untuk kendaraan pribadi tetapi juga untuk kendaraan-kendaraan operasional perusahaannya. “Penghematan dan penurunan cost nya sangat terasa,” ungkap Zulfadli.

Namun sementara itu muncul himbauan dari pemerintah untuk berhati-hati memilih zat aditif untuk kendaraan. Muhidin, Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum Minyak dan Gas Bumi Biro Hukum dan Humas Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM menerangkan aditif yang digunakan dalam bensin ataupun minyak solar, harus memenuhi beberapa persyaratan, di antaranya kompatibel dengan minyak mesin (tidak menyebabkan kekotoran mesin). Selain itu, aditif yang terbuat dari bahan yang dapat membentuk abu (ash forming material) seperti  aditif yang berbahan dasar logam (organometallic) tidak diperbolehkan.

Sekarang ini banyak ditawarkan octane booster dari beragam merek guna menaikkan nilai oktan bahan bakar. Pemilik mobil pun diimbau untuk lebih hati-hati dalam penggunaannya. Pasalnya, sampai saat ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM) belum menetapkan standar aditif yang layak digunakan.

Oleh karena itu Febri sendiri mengakui bahwa pihaknya belum dapat mengajukan SNI untuk Eco Racing karena pemerintah belum menentukan standar nasional untuk oktan boosternya. “Selama ini, kami menggunakan standar American Standar For Technical of Materials (ASTM), uji ASTM banyak sekali mulai dari pengujian nilai Oktan, Sulfur, Kadar Timbal dan lain sebagainya,” tegasnya.