Kaya Ternyata Hak Setiap Orang

Menjadi Kaya Ternyata Hak Setiap Orang Lho!!!

Menjadi Kaya Ternyata Hak Setiap Orang Loh!!!. Siapakah yang ingin hidup MISKIN? Ini adalah pertanyaan terbodoh yang pernah melintas di pikiran siapa pun juga. Meskipun itu adalah pertanyaan bodoh (Stupid Question), faktanya sebagian besar penduduk bumi masuk dalam golongan ini.

Angka menunjukan bahwa orang-orang terkaya merupakan golongan  minoritas. Jumlah mereka tidak pernah lebih besar dari angka 2%. Sementara kelas menengah berkutat di angka sekitar 18% saja. Sisanya 80% adalah orang-orang kebanyakan alias miskin papa. Ini bukan saya yang mengatakan tapi statistik lho.

Sejatinya angka-angka ini adalah angka emas (golden number). Bahkan sebagian ilmuwan menyebutkan sebagai  angka TUHAN. Fibonacci-lah yang berhasil menjelaskan angka-angka ini mengapa bisa seperti itu. Suka tidak suka, begitulah realitasnya. Mau di Indonesia, di Afrika, di Amerika, atau belahan dunia lainnya ya angkanya seperti itu.

Saya lebih suka menyebutnya dengan Kurva Pinggul Kesejahteraan. Kerana bentuknya mirip seperti gitar Spanyol, besar di bagian pinggang ke bawah, mengecil ke atas seperti pinggul perempuan sehat.

Pertanyaannya adalah, apakah kemiskinan membuat Anda pasrah? Terjebak dalam angka 80% tersebut dengan kesedihan, kepedihan, tak berdaya, lalu mati. Kalau Anda menerima (“nrimo” ungkapan dalam bahasa jawa) begitu saja nasib tersebut menimpa, saran saya klik tombol X pada browser Anda sekarang juga.

Terlahir Juara

Tapi saya yakin dan percaya bahwa Anda adalah pejuang yang ingin lepas dari jerat kemiskinan. Karena sejatinya setiap orang yang terlahir ke dunia ditakdirkan Tuhan sebagai pemenang. Anda adalah pemenang! Seperti ratusan juta sel sperma yang berlomba-lomba mendekati sebuah sel telur, hanya satu sel saja yang berhasil sebagai pemenang dan itu adalah Anda! Oleh karenanya jangan sekali-kali meremehkan diri sendiri.

Kemiskinan menyebabkan rasa lapar, syaraf mati, dan penderitaan  yang mengerikan. Begitu eratnya cengkraman kemiskinan itu membelenggu akal dan pikiran siapapun untuk bisa berhasil ke luar dari jebakannya.

Tapi jangan berkecil hati, saya ikhlas memberikan cara, strategi, trik, resep cespleng, dan kiat yang bisa dipraktikkan dalam blog ini. Setidaknya berdasarkan pengalaman pahit dan pengalaman manis yang pernah saya alami. Yang pahit bisa dibuang, yang manis bisa dirasakan dan dimodifikasi. Dengan membaca kisah ini, mungkin Anda bisa langsung tancap gas ke gigi 5 tanpa perlu terlalu banyak merasakan pahitnya, semoga saja ya.

Tuhan itu Maha Adil, siapapun punya kesempatan yang sama untuk bisa kaya. Jangan pernah berpikir, orang kaya akan menghasilkan anak yang kaya pula, TIDAK sama sekali! Segudang warisan uang tunai pun akan segera ludes bagi anak manja yang konsumtif. Satu juta dolar hadiah lotere akan segera ludes bagi penjudi ulung yang menghabiskan sebagian besar waktunya di meja kasino. Tetapi orang kaya yang mewarisi anaknya dengan kekayaan dan ilmu adalah sebuah limpahan anugerah. Saya kok jadi kayak motivator begini ya, maaf ya para pembaca.

Sebaliknya kalau mau jujur air mata dan kepedihan bisa mendorong seseorang menjadi kuat, tabah, dan akhirnya menjadi kaya. Banyak kok contohnya, kepedihan hidup menjadi pelecut yang menempa mentalnya. Hanya saja itu belum cukup, harus tahu bagaimana caranya menjadi kaya, harus ada yang membimbing, atau ada mentornya.

Jujur saja hampir semua orang kaya pelit dengan ilmunya. Hanya segelintir saja yang rela memberikan ilmunya, itupun mesti ikut seminar mahal bernilai jutaan rupiah. Sebagian lagi memberikan ilmunya hanya untuk keturunan aslinya atau teman-teman terdekatnya. Meskipun masih ada sebagian ilmu yang disembunyikan. Saya paham betul dengan hal ini karena begitu banyak orang kaya yang saya tanyai tapi jawabnya begitu rumit atau berat untuk otak saya yang memang bodoh.

Tapi saya ingat pesan Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, “Sampaikanlah itu meskipun satu ayat“. Apalagi saya menyampaikannya dalam sebuah blog, pastilah pahalanya bisa lebih banyak lagi ya, amin.

orang kaya

Jangan Berasumsi

Jangan pernah juga Anda berprasangka bahwa orang bermata sipit saja yang jago berdagang, orang bule lebih superior dari kita, orang India lebih pintar melobi, atau apapun yang membuat Anda berpikir bahwa Anda selalu kalah (merasa minder). Membangun mental percaya diri adalah bagian tak terpisahkan  dari cara untuk membangun kekayaan.

Kerana untuk menjadi kaya, Anda akan bertemu banyak orang, rekanan, suplayer, distributor, karyawan, atau banker. Termasuk juga di dalamnya para penjilat, pencuri, penjahat, dan hal tak terduga lainnya. Mental yang lemah akan menjadi sasaran empuk bagi predator di luar sana. Bukannya memberikan keberkahan, mental lemah akan mendatangkan bencana, kerugian, atau gulung tikar. Tunjukkan dulu bahwa Anda percaya diri dan siap.

Nah mengapa orang ingin kaya? Karena tidak ada satu ajaran pun yang melarang umatnya menjadi kaya. Bahkan dengan kekayaan itu bisa menjauhkannya dari kemudharatan, tindak kejahatan, bahkan bisa membantu si fakir miskin. Kualitas hidupmya pun semakin baik.

So, mau pilih tetap miskin atau mulai bekerja untuk menjadi kaya?

Kaya Itu Direncanakan

Siapa tidak kenal Donald Trump? Ganteng, pintar, dan kaya raya. Profil sempurna bagi seorang gentelman idaman para wanita. Siapa juga pernah menyangka bahwa dia bahkan pernah lebih miskin dari seorang pengemis?

Setelah Bisnisnya rontok dihantam badai krisis menjelang akhir 9-’an, yang tersisa cuma utang yang menumpuk setinggi gunung. Tak cukup sampai disitu, istrinya yang cantik itupun menggugatnya cerai dengan harta gono-gini. Sudah jatuh, tertimpa tangga, masuk comberan pula.

Suatu ketika saat lewat di sebuah  jalan Trump memperhatikan lekat-lekat seorang pengemis yang sedang mengemis di emperan jalan. hatinya berkata lirih saat itu, “Pengemis ini bahkan lebih kaya dariku, pengemis ini tidak punya utang ratusan juta dolar amerika serikat”.

Perbedaannya adalah tiga tahun kemudian! Pengemis tersebut masih tetap berada di tempatnya bahkan tidak bergeser seinci pun. Sementara Trump bisa keluar dari utangnya bahkan mendapatkan kontrak baru dan keuntungan miliaran dolar karena harga propertinya meroket melesat melibihi pesawat Apollo. Tak lain karena dia merencanakan  kesuksesannya sendiri. Gagal membuat rencan sama saja dengan mrencanakan kegagalan.

Gedung tertinggi di  dunia berawal dari angan-angan belaka. Semua hanya ada dalam pikiran (imajinasi) seseorang. Kemampuan untuk mendeskripsikan isi kepala tersebut ke dalam selembar kertas, teknis pengerjaan, gaya arsitektur, dan modal, maka gedung pencakar langit itupun bisa terwujud. Semua direncanakan bukan simsalabim abrakadabra, apalagi bertapa di Gunung Kawi.