Miskin Itu Berpotensi Dosa

Miskin Itu Berpotensi Dosa

ogindonesia – Alkisah Pada tahun abu, tanah mengeras, hujan lama tidak turun, pepohonan mengering, hewan-hewan mati mengenaskan. Semakin lama penderitaan orang-orang di sana semakin menyedihkan, kelaparan menjadi menu utama selama berbulan-bulan.

Di kejauhan terdengar suara seorang gadis cilik yang menangis lirih berkepanjangan. Sayup-sayup suara tersebut datang dari sebuah gubuk reyot yang dihuni pemilik suara itu bersama ibunya. Sambil terus-menerus mengaduk-aduk isi panci yang berada di atas tungku api. Sepertinya ia sedang memasak sesuatu untuk mereka makan.

Rupanya ibu itu sedang berusaha keras menenangkan putrinya yang sedang menahan rasa lapar, sama seperti orang-orang lainnya yang ada di sana. Ibunya terus saja mengaduk isi panci itu hingga anaknya pun tertidur pulsa dan terus berharap hidangan itu segera matang.

Ibunya sengaja memasak batu dan air sekedar untuk menghibur anaknya agar tidak menangis. Sebelumnya pun mereka telah berpuasa karena tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dimakan. Hanya saja saat berbuka puasa tiba tidak ada satu makanan pun yang bisa disantap. Kisah ini begitu memilukan hingga menjadikan Umar bin Khatab pun bersungguh-sungguh untuk membuat rakyatnya tidak kelaparan lagi.

Miskin tidak hanya membuat orang-orang menderita, sakit, atau lapar. Tetapi juga membuat orang-orang sekitarnya pun ikut berdosa. Apalagi membiarkan kemiskinan tersebut terus membelit mereka.

Seringkali kita menyalahkan kebodohan sebagai penyebab kemiskinan. Menurut saya, kebodohan masih bisa ditambal dengan cara mempelajarinya. Bagaimana bodohnya saya dulu hingga kemiskinan terus membelit hidup saya. Seiring lapar, capek hati, dan semua penderitaan orang miskin benar-benar saya rasakan. Mau kaya tapi tidak tahu caranya. Untungnya saya tidak begitu banyak memiliki kadar sebuah sifat lainnya yang sama bahayanya– malas! Kalau saja kedua sifat itu terus saya pelihara dan menguasai jiwa dan pikiran saya, maka artikel ini adalah sesuatu yang mustahil.

Isi kepala saya selalu berdebat sendiri soal susahnya hidup dann membanding-bandingkannya dengan orang kaya di luar sana, kenapa orang-orang itu bisa kaya? Kenapa pulsa saya miskin. Aduh Tuhan, tidak kuat rasanya menjadi miskin kalau sampai akhir hayat menjemput nanti.

Banyak cara yang saya lakukan untuk bisa menjadi kaya. Saya pernah bekerja menjadi orang suruhan tapi tidak kaya-kaya juga. Saya pernah jualan jeans palsu tapi tidak kaya juga. Bahkan beberapa pekerjaan yang harusnya mengantarkan saya ke penjara pada masa lalu. Tapi hasilnya Anda pasti tahu sendiri, saya tetap miskin.

Saya menganggap bahwa uang adalah segalanya. Uang bisa membeli istri yang cantik, membeli mobil mewah, dan makanan enak. Uang punya peran sebagai alat untuk menyelesaikan banyak persoalan. Semakin banyak uang bisa dimiliki, semakin banyak pula hal yang bisa diselesaikan. Hidup menjadi lebih mudah, lebih nyaman, dan lebih aman. Uang bisa membawa saya ke mana pun bahkan ke tempat yang tidak pernah saya bayangkan, bisa membeli apapun yang memuaskan ego saya. Itulah mimpi yang nikmat dikhayalkan, tapi sulit diwujudkan.

Kabar buruknya, uang tidak selalu membuat seseorang menjadi bahagia. Saya heran juga, uang banyak kok tidak bahagia juga? Herannya lagi, uang itu justru bisa menjadi boomerang – senjata makan tuan! Berhasil membeli kapal pesiar tapi tanpa punya teman sejati untuk diajak berlayar, membeli rumah mewah tanpa ada kehangatan di dalamnya, membeli segala jenis makanan dengan mengundang penyakit ke dalam tubuhnya. See?

Sekarang yang penting kaya dulu saja deh. Tetapi sekali lagi bagaimana caranya?

Meskipun artikel ini sedikit untuk kalangan akademis dan cendikiawan, tapi inilah kisah perjalanan puluhan tahun hidup saya dengan kesulitan hidup. Dan kekayaan itu datang hanya begitu saja kalau kita mengetahui caranya. Bahkan kalau dulu orang kaya butuh waktu belasan atau puluhan tahun untuk bisa kaya, bismillah saya malah mengalaminya hanya dalam waktu dua tahun lebih sedikit. Dua tahun ajaib yang mengubah hidup saya. Tentu saja dengan cara yang halal dan manusiawi. Saya berterima kasih kepada ALLAH SWT yang telah membukakan jalan kepada orang miskin seperti saya untuk bisa keluar dari jerat kemiskinan.

Kenapa MISKIN itu cenderung berdosa? Agar Anda tidak lama-lama di sana dan segera keluar dari jeratannya.

“Tuhan memberikan 8 angka not kepada Mozart, Tuhan memberikan 26 huruf kepada Shakespeare, Tuhan memberikan semua warna kepada Picasso, Tuhan memberikan hal yang sama kepada Anda” – Tuhan Maha Adil”

Itulah sedikit serba serbi hari ini, ambil manfaat nya ya.